Miris HUT ke-394 Kabupaten Tangerang, Mahasiswa Terjatuh Saat Hendak Sampaikan Aspirasi ke Bupati
TANGERANG – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-394 Kabupaten Tangerang yang semestinya menjadi momentum refleksi atas perjalanan pembangunan daerah justru diwarnai insiden fisik terhadap mahasiswa. Seorang mahasiswa dilaporkan terdorong hingga terjatuh saat berupaya menyampaikan aspirasi kepada Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid, Selasa (13/10/2026).
Insiden tersebut terjadi seusai Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tangerang, ketika lima mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Tangerang Raya (Untara) menggelar aksi menyuarakan sejumlah persoalan yang dinilai masih membayangi pembangunan Kabupaten Tangerang.
Di tengah perayaan usia daerah yang hampir menyentuh empat abad, mahasiswa justru datang membawa sederet persoalan mendasar. Mulai dari kondisi infrastruktur dan transportasi jalan, anggaran pengelolaan sampah, hingga maraknya penggunaan bahu jalan sebagai tempat parkir truk.
Berdasarkan pantauan di lokasi, ketegangan bermula ketika sejumlah mahasiswa berusaha mendekati Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid yang tengah meninggalkan gedung DPRD.
Mereka bermaksud menyerahkan selebaran berisi tuntutan dan aspirasi secara langsung kepada kepala daerah.
"Nah itu bupati, saya mau ngasih selembaran ini doang," ujar Farhan, salah seorang mahasiswa yang mengikuti aksi.
Namun, upaya menyampaikan aspirasi tersebut berujung insiden. Sebelum selebaran berhasil diserahkan, seorang mahasiswa dilaporkan terdorong hingga terjatuh dalam posisi terlentang.
Situasi sempat memanas. Sejumlah personel Satpol PP, kepolisian, petugas keamanan, serta ajudan bupati berada di sekitar lokasi. Bupati Maesyal kemudian diarahkan menuju gedung bupati.
Di tengah ketegangan, mahasiswa berusaha menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk memicu keributan.
"Sudah, kita damai Pak, kita damai Pak, sudah," ujar salah seorang mahasiswa.
Farhan juga membantah anggapan bahwa aksi tersebut bertujuan menciptakan kegaduhan di tengah rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Tangerang.
"Saya di sini tidak mencari kekerasan. Saya tahu caranya komparatif," kata Farhan seusai digiring keluar dari gedung DPRD.
*Gagal Temui Bupati, Mahasiswa Kejar Gubernur Banten*
Tak berhasil menyampaikan aspirasi kepada Bupati Tangerang, mahasiswa kemudian berupaya menemui Gubernur Banten Andra Soni yang turut menghadiri peringatan HUT ke-394 Kabupaten Tangerang.
Tiga mahasiswa terlihat mendekati dan berusaha menyusul gubernur untuk menyampaikan sejumlah tuntutan yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah provinsi.
Kali ini, persoalan yang disuarakan meluas, mencakup kemiskinan, tata kelola persampahan, hingga keadilan fiskal daerah.
"Kami menuntut pengentasan kemiskinan yang nyata. Kami menuntut pengelolaan sampah yang benar-benar menuju zero open dumping, bukan pembiaran TPA yang mencemari lingkungan," tegas Farhan.
Di tengah situasi tersebut, Gubernur Andra Soni terlihat memberikan arahan agar mahasiswa tidak mengalami tindakan kekerasan.
Personel Satpol PP dan kepolisian kemudian berupaya mengendalikan situasi, sementara gubernur diarahkan meninggalkan lokasi.
*Perayaan Hari Jadi dan Ujian Keterbukaan Pemerintah*
Insiden tersebut menghadirkan kontras di tengah peringatan 394 tahun berdirinya Kabupaten Tangerang.
Di satu sisi, pemerintah daerah memperingati perjalanan panjang pembangunan melalui agenda seremonial yang dihadiri para pejabat dan tamu undangan. Di sisi lain, sekelompok mahasiswa datang membawa kritik terhadap persoalan pelayanan publik dan lingkungan yang mereka nilai masih membutuhkan penyelesaian.
Peristiwa ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai ruang penyampaian aspirasi masyarakat kepada pemimpin daerah, terutama ketika kritik disampaikan secara langsung dalam kegiatan resmi pemerintahan.
Terlepas dari dinamika pengamanan pejabat, tindakan fisik yang menyebabkan mahasiswa terjatuh patut mendapat penjelasan secara terbuka, termasuk mengenai kronologi, pihak yang terlibat, dan apakah prosedur pengamanan telah dijalankan secara proporsional.
Sebab, momentum hari jadi daerah bukan hanya menjadi ruang untuk merayakan capaian pembangunan, tetapi juga kesempatan bagi pemerintah untuk mendengar kritik dan mengevaluasi berbagai persoalan yang belum terselesaikan.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pengamanan maupun Pemerintah Kabupaten Tangerang mengenai penyebab mahasiswa terjatuh dan alasan tindakan pengamanan yang dilakukan.
Tanggapan resmi Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid terhadap sejumlah tuntutan mahasiswa juga belum diperoleh.
Peristiwa ini menyisakan satu pertanyaan mendasar di tengah usia Kabupaten Tangerang yang telah mencapai 394 tahun: sejauh mana pemerintah daerah membuka ruang bagi suara kritis masyarakat, termasuk ketika aspirasi itu disampaikan di tengah perayaan hari jadinya sendiri?(Red)
