SERANG – Dinas Pertanian Provinsi Banten menghadiri Rapat Laporan Akhir Survey, Investigasi, dan Desain (SID) Pengembangan Irigasi Tersier yang digelar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Jumat (04/09/2026). Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketepatan perencanaan infrastruktur air demi mendongkrak produktivitas pertanian di wilayah Provinsi Banten.
Fokus utama dalam pembahasan kali ini adalah usulan pengembangan irigasi tersier di Kabupaten Lebak. Wilayah tersebut diproyeksikan menerima alokasi pengembangan dengan usulan luasan mencapai 2.000 hektare.
Plt. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pembangunan infrastruktur pertanian ini. Ia mengarahkan agar hasil perencanaan teknis yang disusun oleh LPPM Untirta harus sejalan dan terintegrasi dengan jaringan irigasi primer maupun sekunder.
"Sinergi dengan jaringan utama yang dikelola oleh Dinas PUPR maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) sangat krusial. Hal ini memastikan pasokan air dari hulu ke hilir mengalir tanpa hambatan," ujarnya.
Selain keselarasan teknis, percepatan administratif juga menjadi agenda mendesak. Dinas Pertanian mendorong tim teknis untuk segera melakukan percepatan input data serta memenuhi seluruh kriteria kesiapan (readiness criteria) pada aplikasi SIPURI. Langkah cepat ini diperlukan agar usulan luasan di Kabupaten Lebak dapat segera terakomodasi dalam skema pembiayaan infrastruktur nasional.
Melalui rapat laporan akhir ini, hasil SID diharapkan mampu menyajikan potret kondisi lapangan secara akurat dan riil. Dengan data yang presisi, pembangunan fisik irigasi tersier nantinya dipastikan dapat berfungsi secara optimal, efisien, dan tepat sasaran bagi para petani.(Red)



